Layla
"Siap? Maju!"
Skills
Malefic Gun
Layla memberikan peningkatan kerusakan pada musuh yang jauh darinya (dari 100% menjadi 140%, mencapai maksimum 6 unit).
Malefic Bomb
Layla menembakkan Malefic Energy Bomb ke arah target, memberikan 200(+80% Total Physical Attack) Physical Damage kepada musuh pertama yang terkena serangannya. Kerusakan ini dapat menyerang secara kritis. Saat mengenai musuh, Layla memperoleh tambahan jangkauan Serangan Dasar selama 3 d dan 60% Kecepatan Pergerakan tambahan yang berkurang selama 1,2 d. Durasi peningkatan Movement Speed menjadi dua kali lipat jika hero musuh terkena.
Void Projectile
Layla menembakkan sebuah Orb Malefic Energy ke target musuh yang meledak jika mengenainya, memberikan 170(+65% Total Physical Attack) Physical Damage kepada musuh di area tersebut, menyebabkan efek Slow kepada mereka sebesar 30% selama 1,2 detik, dan menandai mereka dengan Malefic Mark. Serangan Layla berikutnya akan meledakkan tandanya, memberikan 100(+35% Total Serangan Fisik) Kerusakan Fisik tambahan kepada musuh di area tersebut dan menyebabkan efek Slow kepada mereka sebesar 30% selama 1,2 detik.
Destruction Rush
Layla menembakkan ledakan Malefic Energy ke arah target, memberikan 500(+150% Total Physical Attack) Physical Damage kepada lawan dalam satu barisan. Pasif: Jangkauan Proyektil Void dan Serangan Dasar Layla ditingkatkan sebesar 0,6 unit. Jarak pandangnya juga sedikit meningkat setiap kali skill ini ditingkatkan.
Skin
Energy Gunner
Default
Green Flash
Basic269 Diamonds
Bunny Babe
Starlight
Cannon and Roses
Valentine
Blue Spectre
Limited
Classic Malefic Gunner
Special
S.A.B.E.R. Breacher
S.A.B.E.R899 Diamonds
Blazing Gun
Blazing899 Diamonds
Miss Hikari
Aspirant
Twilight Waltz
Starlight
Paranormal Operative
CollectorCerita Latar
Layla Grant adalah anggota terkemuka Eruditio Rangers yang dengan berani melindungi inti teknologi Eruditio, Starlium Reactor, saat kota tersebut diserang secara brutal sehari sebelumnya. Aksinya tidak hanya menyelamatkan peradaban, tetapi juga membuktikan bahwa generasi muda Eruditio memiliki ketangguhan dan daya juang yang luar biasa. Cinta dan rasa memiliki terhadap tanah air mereka menjadi kekuatan hidup yang mengalir di dalam diri setiap warga Eruditio. Atas pengabdian itu, Layla dianugerahi gelar kehormatan Shining Star.
Tahun ini, gelar Shining Star tidak diberikan kepada seorang Scholar, melainkan kepada anggota Eruditio Rangers. Sosok itu tidak lain adalah “putri Eruditio” sendiri. Layla tumbuh besar di jalanan kota Eruditio, dan hampir setiap Scholar di Spire of Knowledge pernah berhadapan dengan sifat usilnya. Namun, entah bagaimana, kenakalan kecil yang ia lakukan sering kali justru membantu para Scholar mencapai terobosan penting dalam penelitian mereka. Di waktu lain, Layla kerap muncul tiba-tiba untuk membantu para pedagang bernegosiasi dengan pengunjung asing, menggunakan logat bicaranya yang khas dan menghibur. Para porter di pelabuhan pun pernah merasakan bantuannya dengan cara mereka masing-masing. Layla mengawasi kota ini dengan setia, seperti seorang penjaga tanpa lelah, bersinar layaknya bintang di langit malam.
Di sisi lain, satu-satunya kerabat sedarah Layla, yaitu Thomas, mantan kapten Eruditio Rangers yang sudah tua namun masih sekuat banteng, hampir tidak pernah menunjukkan kegembiraan. Ia sering duduk sendirian di ruangan yang remang, siluetnya menyerupai bayangan pegunungan tinggi di kejauhan. Sambil membelai senjata kuno, sosoknya tampak gagah sekaligus penuh kesepian.
Di masa lalu, Thomas pernah menggendong seorang bayi yang menangis di pelukannya. Putri tercintanya telah menghilang di balik Infinite Gateway yang berubah menjadi debu bintang di langit, meninggalkannya hanya dengan bayi kecil itu. Seolah memahami apa yang terjadi, tangisan sang bayi menggema di malam hari tanpa henti. Dengan tergesa, Thomas berlari pulang sambil memeluk bayi tersebut, sementara bintang fajar mulai terbit di ufuk timur. Ia tidak ingin cahaya siang melukai bayi itu saat perlindungan malam perlahan menghilang. Ia telah kehilangan seorang anak demi fajar umat manusia, dan bayi di pelukannya adalah satu-satunya yang tersisa.
Thomas membungkus bayi itu dengan selubung kegelapan untuk melindunginya, lalu memberinya nama Layla, yang berarti malam gelap. Seiring waktu, Layla tumbuh menjadi cahaya dalam hidup Thomas yang sebelumnya hampa. Ia mencintai langit dan bumi, dan hidupnya selalu dipenuhi energi serta keceriaan. Perlahan, wajah Thomas yang dahulu dipenuhi luka batin kembali mampu tersenyum. Ia kembali mengenakan perlengkapan masa mudanya sebagai Ranger dan bersama Layla melompat dari tanah, terbang melintasi cakrawala Eruditio, hingga menjadi mimpi buruk terbesar bagi para Ranger muda. Mereka kebingungan, bagaimana mungkin mereka mengejar dan menangkap pria tua yang wajahnya terpampang di buku peraturan Rangers. Bagi Thomas, Layla adalah segalanya, dari fajar hingga senja. Namun jauh di dalam hatinya, Layla tetap ingin mengetahui ke mana orang tuanya pergi.
Thomas selalu mengatakan bahwa orang tuanya meninggal dalam tragedi jatuhnya meteor. Ia lalu mengalihkan pembicaraan dengan memperlihatkan senjata barunya yang memiliki daya tembak jauh lebih besar. Ketika rambut kuncir Layla telah mencapai bahunya, ia berhenti menanyakan soal orang tuanya karena tidak sanggup melihat kesedihan dan penghindaran di mata kakeknya. Namun, suatu hari Layla menyadari bahwa setiap tahun, kakeknya selalu pergi sebelum fajar menyingsing. Ia pun diam-diam mengikutinya dan menemukan jawaban yang selama ini ia cari.
Thomas pergi ke sebuah pemakaman untuk berziarah ke makam seorang perempuan bernama Lillian. Nama itu pernah Layla lihat di surat kabar lama dan tercantum dalam berita duka resmi dari Spire of Knowledge. Lillian adalah seorang Scholar hebat yang gugur demi kemajuan Eruditio. Layla pun menyadari bahwa perempuan itu adalah ibunya. Pengetahuan tersebut membuatnya bangga, sekaligus sedih karena mereka tak pernah bisa bersama. Di samping makam Lillian terdapat sebuah batu nisan tanpa nama dan foto, hanya tertulis kalimat, “Aku akan menggenggam tanganmu di bawah langit penuh bintang.”
Layla memahami bahwa kakeknya ingin menghapus semua jejak orang tuanya dari hidupnya agar ia tidak perlu merasakan duka. Meski mengerti, Layla tetap menyisakan sebuah pintu kecil di hatinya untuk Lillian, agar jika ibunya merindukannya, ia masih bisa mengunjunginya dalam mimpi. Tentang makam pria misterius tanpa identitas itu, Layla berharap suatu hari ia akan datang bersama ibunya dan akhirnya mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya.
Di dalam hatinya, Layla berjanji untuk selalu mengingat ibunya dan melindungi Eruditio, kota yang telah mengorbankan nyawa ibunya. Di mata Thomas, Layla menempuh jalan yang sangat berbeda dari ibunya. Ia tidak menyukai belajar dan selalu gagal dalam ujian, namun ia kuat dan tak ada penjahat yang lolos tanpa menerima pelajaran darinya. Bagi Thomas, hal itu justru melegakan, karena Layla tidak akan menjadi Scholar dan mengorbankan dirinya demi masa depan umat manusia, serta tidak akan berbagi nasib tragis seperti Lillian.
Namun, ketika Thomas mengetahui bahwa Layla hampir tewas saat melindungi Eruditio, ia membuka ruangan yang telah ia segel selama lima belas tahun dan duduk di sana dalam waktu yang lama. Seluruh kehidupan Lillian terulang dalam pikirannya. Ia adalah sosok yang penuh semangat, cerdas, dan berani, serta melindungi Eruditio dengan caranya sendiri. Ia adalah bintang paling terang di langit, dan Layla ternyata sangat mirip dengannya.
Suara Layla terdengar pelan dari ambang pintu. Tubuhnya telah pulih sepenuhnya berkat perawatan di Spire of Knowledge, namun rasa bersalah memenuhi hatinya karena ia tahu betapa khawatirnya sang kakek. Ia mengira kakeknya akan marah besar karena luka parah yang ia alami. Namun Thomas hanya memeluknya erat, tubuhnya bergetar hebat, dan berkata bahwa ibunya pasti akan sangat bangga padanya.
Thomas kemudian menyerahkan sebuah senjata yang selama ini ia simpan rapat di dalam lemari. Senjata itu adalah prototipe yang ditinggalkan oleh Lillian. Selama lima belas tahun, Thomas tak sanggup melihat apa pun yang mengingatkannya pada Lillian, hingga ia lupa bahwa jejak terdalam dan terindah yang ditinggalkan Lillian ada tepat di hadapannya.
Ia mengatakan bahwa jika Layla ingin melindungi Eruditio, ia harus dipersenjatai dengan daya tembak terkuat. Senjata prototipe itu adalah hasil karya ibu dan ayahnya. Dengan senjata itu di tangannya, tak ada kejahatan yang mampu berdiri di hadapan Layla, seolah bintang-bintang selalu membimbing jalannya. Setiap kali Layla menggenggam senjatanya, ia merasakan kehadiran Lillian di sisinya, begitu pula sosok pria tanpa nama itu, yang selalu menjaganya dari kejauhan.
Informasi Tambahan
Gadis yang mengerahkan dirinya untuk menyelamatkan ayahnya Sebagai anak yang suka berpetualang. Layla berangkat menjelajahi dunia setelah dia menerima Malefic Cannon dari ayahnya. Tak disangka, Layla jatuh ke tangan Laboratorium 1718. Ayahnya menyerahkan diri ke laboratorium tersebut sebagai sandera demi menyelamatkan Layla. Untuk menebus kesalahannya dan menyelamatkan ayahnya, Layla mengambil Malefic Gun dan memulai misi penyelamatan.
